MEREKA ADALAH WASILAHMU DALAM MENGGAPAI SURGA

Sobat muda, manusia muncul kedunia pasti melewati perantara orang tuanya, tidak terkecuali kita. Mulai kita dikandungan, kemudian menjadi jabang bayi yang begitu merepotkan, lalu tumbuh menjadi balita yang menuntut banyak perhatian ortu kita, sampai menjadi seorang pemuda seperti saat ini. Dalam setiap fase ini sedikit banyak, pasti orang tua kita memiliki peran dalam hidup kita. Nah, ini menandakan bahwa orang tua kita memiliki jasa yang besar atas kita. Saking besarnya, sampai-sampai seorang anak hampir-hampir tidak akan mungkin untuk membalas jasa baik keduanya, loh kok?

Cobalah kita tengok riwayat berikut ini :

Suatu hari, Ibnu Umar melihat seorang yang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lalu berkata kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.”(Diambil dari kitab al-Kabair, karya adz-Dzahabi)

Bisa kita bayangkan, beratnya beban seseorang untuk dapat memutari ka’bah sebanyak tujuh kali dengan menggendong seseorang, pada waktu panas yang begitu terik dan keadaan yang sangat payah. Namun dengan ini semua ternyata belum bisa menandingi walau satu erangan seorang ibu tatkala melahirkan putranya? lalu butuh berapa banyak pengorbanan seorang anak untuk dapat membalas jasa baik orang tua? Oleh karenanya hampir-hampir kita tidak bisa membalasi kebaikan mereka dengan seluruh yang kita mampui..

Sobat muda, birrul waliadain tidak berarti hanya pada perkara-perkara berat dan susah untuk dikerjakan oleh kita. kita bisa kok berbakti kepada orang tua dengan perkara yang ringan dan mudah namun dapat membahagiakan orang tua. Cobalah kita senantiasa tersenyum didepan mereka, membantu memberesi pekerjaan rumah ibu, membantu bersih – bersih rumah, membantu mengambilkan sesuatu yang dibutuhkan ayah, dan sebagainya. Bila apa yang kita lakukan dapat menyenangkan ortu (dengan catatan dalam perkara yang tidak menyelisihi agama loh,red) maka itu terhitung sebagai birrul walidain. Sebagai contoh adalah apa yang dilakukan oleh  Abu Hurairah z.Abu Hurairah menempati sebuah rumah, sedangkan ibunya menempati rumah yang lain. Apabila Abu Hurairah ingin keluar rumah, maka beliau berdiri terlebih dahulu di depan pintu rumah ibunya seraya mengatakan, “Keselamatan untukmu, wahai ibuku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Ibunya menjawab, “Dan untukmu keselamatan wahai anakku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Abu Hurairah kemudian berkata, “Semoga Allah menyayangimu karena engkau telah mendidikku semasa aku kecil.” Ibunya pun menjawab, “Dan semoga Allah merahmatimu karena engkau telah berbakti kepadaku saat aku berusia lanjut.” Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Hurairah ketika hendak memasuki rumah.”[H.R. Bukhari dalam adabul Mufrad ]

Nah hayo, ada ndak ya diantara kita yang berlaku seperti shahabat ini? Apa sih susahnya mengucapkan ucapan ini, hanya bermodalkan lisan kita mendoakan ibu atau bapak kita yang menjadikan keduanya bahagia mendengarnya dan menjadikan kita mendapat pahala yang berlipat. Namun, terkadang hal remeh ini begitu susah untuk dilakukan.

HATI-HATI, OMONG SALAH BIKIN SENGSARA

                Pernah tidak kita medengar ada seorang anak yang tega menghilangkan nyawa ibu atau bapak hanya karena tidak dibeliin sepeda motor, atau mungkin pula kita sering dengar anak yang mencaci orang tuanya sebab merasa ortunya mengusik aktifitasnya. Kita merasa risih atau merasa marah bukan bila ada seorang anak berani melakukan itu terhadap orang tuanya?. Banyak dari kita sadar bahwa itu adalah hal yang melanggar norma agama dan susila. Tapi, apa kita juga pernah berfikir jangan-jangan kita juga terpelosok kepada durhaka kepada orang tua kita tanpa disadari?.

Sobat muda, Allah sungguh-sungguh memuliakan kedudukan orang tua atas anak mereka, sebagaimana firmannya

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.  Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” [Q.S. Al isra’ : 23]

Terkadang ucapan “ah” atau yang semisal itu dengan begitu gampang meluncur dari lisan kita. Namun sobat muda hati-hatilah bila ucapan itu terucap dihadapan kedua orang tua kita. jangan-jangan ucapan itu menyinggung mereka. Sebab ini berarti masuk dalam salah satu kedurhakaan kepada keduanya. Bagaimana pula bila orang tua kita marah kemudian mendoakan kita dengan doa yang buruk. Bukannya Rasulullah n telah bersabda :

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدَيْنِ عَلىَ وَلَدِهِمَا

“Ada tiga jenis doa yang mustajab (terkabul), tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian dan doa kejelekan kedua orang tua kepada anaknya.” [H.R. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrod, hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani]

                Sobat muda, cukuplah bagi kita untuk meneladani praktek para shahabat dan para ulamadalam bergaul dengan kedua orang tua mereka, sebagaimana contoh berikut ini :

Dari Anas bin Nadzr al-Asyja’i, beliau bercerita, suatu malam ibu dari sahabat Ibnu Mas’ud meminta air minum kepada anaknya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata sang Ibu sudah ketiduran. Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala ibunya sambil memegang wadah berisi air tersebut hingga pagi.”

Juga disebut dalam riwayat lain bahwa  Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang terkenal sangat berbakti kepada ibunya, sampai-sampai ada orang yang berkata kepadanya, “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu.” Beliau menjawab, “Aku takut kalau-kalau tanganku mengambil makanan yang sudah dilirik oleh ibuku. Sehingga aku berarti mendurhakainya.”

Nah sobat, sudahkah kita benar-benar berbakti kepada orang tua kita? wallahu a’lam