Dalam kehidupan sehari-hari, tidak bisa tidak kita terkadang menemui barang-barang yang najis. Kita tentu berusaha menghindari diri kita dari najis, supaya kita senantiasa diatas kesucian dan kebersihan.  Oleh karena itu ada beberapa barang najis yang kita mesti berhati-hati darinya. apa sajakah najis-najis ini :

1. Kotoran (tahi) dan kencing manusia

Adanya perintah Rasulullah n , serta perbuatan beliau untuk bersuci dari najisnya kotoran manusia telah banyak disebutkan dalam hadits -hadits Rasulullah n , hal ini menunjukkan najisnya kotoran manusia. Terlebih lagi adanya perintah Allah untuk bersuci darinya, dengan air atau bertayamum bila tidak mendapatkannya supaya ibadah kita Allah terima. Allah berfirman :

 وإن كنتم مرضى أو على سفر أو جاء أحد منكم من الغائط أو لمستم النساء فلم تجدوا ماء فتيمموا صعيدا طيبا

Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci)(Q.S. An Nisa : 43)

Adapun najisnya kencing manusia dijelaskan dalam hadits tentang dua orang penghuni kubur yang diazab. Dikatakan oleh Rasulullah n  :

“Adapun salah satu dari keduanya tidak membersihkan dirinya dari kencingnya”. (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abi Said Al Khudry z )

Kenajisan kotoran dan kencing manusia ini banyak ataupun sedikit- disepakati oleh ulama. Adapun kencing anak kecil laki-laki yang masih menyusu dan belum makan makanan tambahan kecuali kurma untuk tahnik (kunyahan kurma yang dimasukkan/digosok-gosokkan ke langit-langit mulut bayi yang baru lahir) atau madu untuk pengobatan maka kencing tersebut merupakan najis yang ringan. Dalam artian tetap harus ada usaha untuk membersihkan najis tersebut namun dengan cara yang ringan, seperti dalam hadits Ummu Qais bintu Mihshan, bahwa ia suatu saat membawa anaknya yang masih kecil dan belum makan makanan kepada Rasulullah n, lalu Rasulullah mendudukkan anak itu di pangkuannya. Kemudian anak itu kencing di baju beliau. Maka Rasulullah meminta air dan mengguyurkannya ke bajunya (hingga air menggenangi bekas kencing tersebut) dan tidak mencucinya. (Dalam lafaz lain: lalu beliau menuangkan air ke atas bekas kencing tersebut). (H.R. Bukhari dan  Muslim )

Adapun dalam masalah kotoran dan kencing hewan, maka ada disana perselisihan di kalangan ulama. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa kotoran hewan – baik yang dimakan dagingnya maupun tidak adalah najis, sebagaimana pendapat jumhur ulama dan Syafi’i. Sebagian yang lain berpendapat, yang najis hanya kotoran hewan yang tidak dimakan dagingnya. Sementara pendapat yang lain dari kalangan ulama mengatakan pada asalnya semua kotoran hewan suci, kecuali ada nash yang mengatakan najis, maka barulah dikatakan najis. Ini merupakan pendapat Ibnul Mundzir, Dawud azh-Zhahiri, Ibrahim an-Nakha’i, asy-Sya’bi dan Asy-Syaukani. Pendapat ketiga ini didasarkan atas pendapat bahwa pada asalnya, segala sesuatu adalah mubah dan suci, oleh karena itu untuk menghukumi najis atau tidaknya sesuatu, maka haruslah membawa dalil yang kuat. Maka, tidak boleh mengatakan najis untuk sesuatu kecuali dengan mengemukakan hujjah. Hal ini dibenarkan dengan adanya hadits yang menunjukkan ketidaknajisan kotoran seperti perintah Rasulullah untuk meminum air kencing unta (H.R. Bukhari dan Muslim  dan lainnya)

2. Madzi

Madzi adalah cairan yang hampir mirip dengan mani. Bedanya, madzi lebih encer dan Keluarnya tidak terasa  ketika seseorang bersyahwat. Suatu ketika ‘Ali z menyuruh Miqdad ibnul Aswad, untuk menanyakan perihal madzi  kepada Rasulullah n , maka beliau menjawab :

“Hendaknya dia mencuci kemaluannya dan berwudhu”.(H.R. Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut menunjukkan tentang najisnya madzi, di mana Rasulullah n memerintahkan untuk mencuci kemaluan yang terkena madzi tersebut. Satu hal yang perlu kita ketahui, bahwa madzi ini dapat menimpa laki-laki sekaligus wanita

3. Wadzi

Wadzi adalah cairan yang keluar setelah kencing atau saat mengejan setelah buang air besar. Hukum wadzi sama dengan madzi atau kencing, yaitu najis. Para ulama telah berijma’ bahwa wadzi hukumnya najis sebagaimana air kencing ataupun madzi.

4. Darah Haid dan Nifas

Telah datang dalil yang menunjukkan kenajisan darah haid dalam hadits Asma’ bintu Abi Bakr c bahwa ada seorang wanita bertanya kepada Rasulullah n : “Ya Rasulullah, jika salah seorang dari kami terkena darah haid pada pakaiannya, apa yang harus ia lakukan?” Maka Rasulullah n bersabda,

“Apabila darah haid mengenai pakaian salah seorang dari kalian, hendaknya dia mengeriknya lalu membasuhnya, kemudian ia shalat memakai pakaian tersebut.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

Adapun jika setelah dicuci dan digosok dengan air dan sabun, darahnya masih membekas maka hal ini tidak menjadi masalah, berdasarkan sabda Rasulullah n :

‘Ya Rasulullah, (bagaimana) kalau bekasnya tidak bisa hilang?’

Rasulullah n berkata,

‘Cukuplah air bagimu (dengan mencucinya) dan bekasnya tidak membahayakan (shalat)mu.’ (H.R. Abu Dawud, Al-Baihaqi  dari Abu Hurairah  )

Adapun darah nifas maka hukumnya sama dengan darah haid

5. Bangkai

Secara umum para ulama bersepakat tentang kenajisan bangkai. Bangkai adalah hewan yang mati bukan karena disembelih dengan cara yang syari. Rasulullah n bersabda :

“Apabila kulit telah disamak maka itu merupakan pensuciannya”. (H.R. Muslim)

Dari hadits di atas dipahami bahwa kulit hewan yang telah mati (bangkai) itu najis sehingga bila ingin disucikan harus disamak terlebih dahulu. Apabila kulitnya najis maka tentunya bangkainya lebih utama lagi untuk dihukumi akan kenajisannya.

Dikecualikan dari bangkai yang najis ini adalah :

1. Bangkai manusia , sesuai dengan sabda Nabi n

“Sesungguhnya mukmin itu tidak najis.” (H.R. Bukhari dan Muslim )

2. Bangkai hewan laut, dengan dalil firman Allah l  :

Dihalalkan bagi kalian binatang buruan dari laut dan makanan dari hasil laut (Q.S. Al Maidah : 96)

Rasulullah n bersabda :

“Laut itu suci airnya dan halal bangkainya”. (H.R. Ashabus Sunan dan dishahihkan Syaikh Albani dalam Ash Shahihah)

3. bangkai hewan yang tidak memiliki darah mengalir ketika hewan itu dibunuh atau terluka, dalilnya adalah hadits :

“Apabila jatuh lalat dalam bejana salah seorang dari kalian maka hendaklah ia mencelupkan lalat tadi ke dalam air kemudian dibuangnya”. (H.R. Bukhari),

Rasulullah n juga bersabda

Dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah, adapun dua bangkai itu adalah bangkai ikan dan serangga, dan dua darah itu maka hati dan limpa

Masuk pula dalam jenis bangkai adalah segala bagian tubuh hewan yang terpotong dalam keadaan hidup, sebagaiman hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah n yang artinya :

“Apa saja yang terpotong dari hewan ternak dalam keadaan masih hidup maka itu (potongan itu) adalah bangkai”

Nah, inilah sebagian najis yang kita patut bersuci dan menjaga diri darinya, semoga bermanfaat.