DIMANA ALLAH?

banyak terjadi kerancuan pemahaman dari sebagian kaum muslimin tentang dimanakah Allah berada. sebagian berkata bahwa Allah berada disetiap tempat, sebagian berpendapat Allah tidak bertempat. Nah bagaimanakah aqidah yang benar dalam Islam tentang hal ini?

                Suatu ketika seorang shahabat bernama Muawiyah bin Hakam As Sulami z menampar  budak wanita miliknya. Hal ini disebabkan seekor domba yang digembalakan oleh budak itu telah dimakan srigala. Setelah kejadian tersebut, sahabat inipun datang kepada Rasulullah dan melaporkan apa yang telah ia lakukan. Ternyata Beliau menganggap besar permasalahan itu. Muawiyah bin Hakampun merasa bersalah dan mengatakan : “Wahai Rasulullah, apakah saya merdekakan budak itu?” Jawab beliau: “Bawalah budak itu padaku”. Lalu Nabi n bertanya: “Dimana Allah?” Jawab budak tersebut: “Di atas langit”. Nabi n bertanya lagi: “Siapa saya?”. Jawab budak tersebut: “Engkau adalah Rasulullah”. Nabi n bersabda: “Merdekakanlah budak ini karena dia seorang wanita mukminah”.(lihat riwayat selengkapnya dalam riwayat Muslim, Abu Dawud, Nasa’i)

                Kalau kita cermati kisah ini, terdapat didalamnya pelajaran yang berharga. Salah satu pelajaran berharga tersebut adalah pertanyaan Rasulullah n yang diajukan kepada budak wanita tadi. Beliau bertanya kepada budak wanita tersebut tentang keberadaan Allah . pertanyaan Rasulullah n “dimanakah Allah” dalam hadits ini, walaupun sangat sederhana dan simpel namun terkandung didalamnya makna yang dalam. Sebab jawaban yang akan dilontarkan dari pertanyaan   ini akan menentukan benar dan tidaknya keyakinan seseorang tentang Allah l . singkat kata, jawaban budak  “diatas langit” ternyata dibenarkan oleh Rasulullah n . Sebuah jawaban yang singkat namun mengandung makna yang besar didalamnya. Dengan jawaban ini, Rasulullah menghukumi kebenaran keimanan budak tersebut sehingga budak inipun dibebaskan.

                Sesungguhnya, kita sebagai seorang muslim mesti meyakini keberadaan Allah l diatas langit, Ia l berada diatas  arsy-Nya. Didalam Al Quran telah banyak dalil yang menyebutkan tentang hal ini. Diantaranya adalah firman Allah l  :

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

Dan Alloh Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. al-Baqarah: 255)

Allah juga berfirman mengenai keberadaan-Nya diatas Arsy

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah) bersemayam di atas ‘arsy. (QS. Thaha: 5)

                Keimanan bahwa Allah berada diatas Arsy-Nya termasuk pokok keimanan seorang Muslim. Hal ini sebagaimana dituturkan oleh Imam Syafii rahimahullah :

Aqidah yang saya yakini dan diyaikini oleh orang-orang yang pernah aku temui seperti Sufyan, Malik dan selainnya adalah menetapkan syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah dan bahwasanya Allah di atas arsy-Nya yakni di atas langitnya. (Adab Syafi’I wa Manaqibuhu Ibnu Abi Hatim hal. 93)

Demikian pula hal ini juga merupakan pokok keimanan yang dimiliki oleh para shahabat. Diantaranya adalah suatu riwayat dari Ibnu Umar z

Dari Zaid bin Aslam ia bercerita: “Ibnu Umar pernah melewati seorang pengembala kambing lalu berkata: Hai pengembala kambing, adakah kambing yang layak untuk disembelih? Jawab si pengembala tersebut: “Tuan saya tidak ada di sini”. Ibnu Umar mengatakan: “Bilang saja sama tuanmu bahwa kambingnya dimakan oleh serigala! Pengembala itu lalu mengangkat kepalanya ke langit seraya mengatakan: “Lalu dimana Allah?”! Ibnu Umar berkata: Demi Allah, sebenarnya saya yang lebih berhak mengatakan: Dimana Allah? Kemudian beliau membeli pengembala serta kambingnya, membebaskannya dan memberinya kambing  (riwayat At Thabarani dalamMu’jamul Kabir dan dishahihkan Al Albani)

Lihatlah kepada sikap Ibnu Umar yang merasa takjub dengan jawaban penggembala itu. Beliau kemudian membebaskan budak tersebut bahkan memberinya kambing-kambing sebab jawaban sang budak ini. Dengan demikian keyakinan bahwa Allah diatas langit, berada diatas Arsy-Nya adalah keyakinan yang benar sesuai dengan Al Quran As Sunnah, serta keyakinan para shahabat serta imam-imam setelah mereka.

ALLAH DIMANA-MANA,BENARKAH?

                Diantara kaum muslimin ada yang menjawab “Allah dimana-mana” tatkala mendapat pertanyaan tentang keberadaan Allah l , benarkah hal ini?

Kalau kita mau melihat kepada kacamata syariat maka akan kita dapatkan bahwa jawaban yang seperti ini adalah jawaban yang salah dilihat dari berbagai sisi:

  1. dari sisi dalil Al Quran dan As Sunnah yang banyak menunjukkan akan ketinggian Allah diatas Arsy, sebagaimana telah disebutkan sebagian dalilnya dimuka.
  2.  kesepakatan para ulama’, yang menyatakan bahwa Allah berada dilangit di atas Arsy-Nya. AlAuza’i pernah mengatakan : , “Kami dan seluruh tabi’in bersepakat mengatakan, Alloh berada di atas ‘arsy-Nya. Dan kami semua mengimani sifat-sifat yang dijelaskan dalam as-Sunnah
  3. dalil akal

akal seseorang yang bersih dan sesuai  fitrah tentu akan mengatakan bahwa Allah, Rab seluruh makhluk berada diatas, halini sebab sifat ketinggian menunjukkan kemuliaan. Sebaliknya tempat yang rendah menunjukkan kepada kerendahan, tentu ini tidak mungkin disandarkan kepada Allah l

  1. dalil fitrah

fitrah manusia pasti berkeyakinan bahwa Rab mereka berada diatas mereka, terbukti dengan apa yang dilakukan oleh keumuman manusia, mereka tentu akan menengadahkan tangan-tangan mereka keatas meminta kepada Allah rab mereka. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa fitrah yang bersih akan mengakui ketinggian-Nya atas makhluk-Nya

ALLAH BERSAMAMU DIMANAPUN KAMU BERADA

                Allah dimana-mana, sebuah jawaban yang sering kali kita dengar. Begitu banyak dari kaum muslimin yang menganggap bahwa inilah yang tepat untuk menjawab pertanyaan tadi. Sebenarnya apakah yang mendorong jawaban ini? . Dalam Al Quran Allah berfirman yang artinya

Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan.  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al Mujadalah : 7)

Dalam ayat ini Allah menyebutkan bahwa Allah bersama mereka dimanapun mereka berada. Tersirat dari konteks kalimat tersebut bahwa Allah berada bersama dengan makhluknya dimanapun mereka berada. Sehingga dari sini muncul pendapat bahwa Allah berada dimana-mana. Kalau kita cermati, kalimat Allah berada bersama dengan hamba-Nya ini tidaklah bermakna bahwa diri Allah berada dimana- mana. Bukankah awal ayat tersebut Allah buka dengan penyebutan ilmu-Nya, demikian pula Allah ulangi penyebutan ilmu-Nya tersebut pada penutup ayat ini? Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa ilmu Allahlah yang bersama dengan hamba-Nya. Allah mengetahui keadaan hamba-Nya dengan ilmu-Nya. Demikianlah disebutkan oleh banyak ulama mengenai makna ayat tersebut. Hal senada juga Allah ungkapkan dalamayat-Nya yang lain yang menunjukkan bahwa ilmu-Nyalah makna dari “kebersamaan” tersebut. Allah berfirman yang  artinya :

Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(Q.S. Al Hadid : 4)

Jadi, dari sini kita bisa ambil kesimpulan bahwa, ilmu Allah yang dimaksudkan dalam dua ayat ini. Ilmu Allah meliputi makhluk-makhluk-Nya, tak satu makhlukpun yang terlepas dari pengetahuan Allah, adapun Dzat Allah maka sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat yang banyak serta hadits Rasulullah bahwa Allah beristiwa’ diatas Arsy-Nya terpisah dengan makhluk-Nya.

Wallahu a’lam.