KEPEMIMPINAN, BEBAN YANG DIPEREBUTKAN

“Berebut kursi”, demikianlah kita mendapatkan suasana negeri kita disetiap 5 tahunan. Para orator-orator ulungpun seakan berlomba untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat kepadanya atau kepada kelompoknya. Inilah pesta demokrasi yang tidak bisa tidak mesti kita temui. Tak jarang kita temui adanya permusuhan yang notebene terjadi antara kaum muslimin karena sebab ini . sungguh sangat disayangkan.

Sebenarnya kepemimpinan dalam tampuk kekuasaan adalah beban dan tanggung jawab yang nanti akan kita pertanggung jawabkan. ia bukanlah kenikmatan hingga kita perlu berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Layaknya suatu tanggung jawab, kita tentu akan merasakannya sebagai beban sehingga merasa berat memikulnya dan berusaha untuk menghindarinya. Demikianlah hakikat kekuasaan. Namun justru sebagian kita masih menganggapnya sekedar sebagai profesi yang diharapkan darinya keuntungan duniawi semata. Tiada tanggungan yang ia akan terima kecuali tanggungan didunia saja menghadapi rakyatnya. Kalau jiwanya sudah termakan nafsu terhadap harta, bisa jadi iapun akan berfikir bagaimana caranya untuk mungkir dari tanggungan ini. Padahal Rasulullah n telah mewanti-wanti umatnya dari kekuasaan ini, sebagaimana ucapan beliau n kepada Abu Dzar z ketika Abu Dzar meminta jabatan kepada Rasulullah n :

“wahai Rasulullah tidakkah engkau mempekerjakanku (sebagai pegawai,red) ? maka Rasulullah n menepuk pundakku kemudian berkata :

يا أبا ذر إنك ضعيف وإنها أمانة وإنها يوم القيامة خزي وندامة إلا من أخذها بحقها وأدى الذي عليه فيها

“wahai abu dzar, engkau ini seorang yang lemah sedangkan kekuasaan adalah amanah, padahal ia (kekuasaan) pada hari kiamat adalah (sebab) kesedihan dan penyesalan, kecuali seorang yang menegakkannya sesuai dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya”[H.R. muslim]

Dalam hadits ini , Rasulullah n menyebutkan bahwa kekuasaan adalah sebab penyesalan dan kesedihan, kecuali seorang yang menegakkan haknya. Padahal, banyak kita telah mengetahui mayoritas pimpinan sangat jarang untuk dapat mengemban tanggung jawabnya sesuai dengan tugasnya. Bahkan dalam hadits yang lain Rasulullah telah bersabda :

 “Tidaklah seseorang yang diberi amanah Allah untuk memimpin rakyatnya, sedangkan ia meninggal dunia dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah haramkan baginya masuk surga.”

[H.R. Muslim]

demikianlah beratnya tanggung jawab suatu amanah. Allah memberikan ancaman yang keras bagi para penguasa dengan hal ini. Bukan main-main, ancaman Allah “haram masuk surga” yang begitu keras Allah persiapkan bagi mereka para pemimpin yang tidak menunaikan tanggung jawab kepemimpinannya. Tanggung jawab sebagai pimpinan bukan sekedar dapat menjadikan penduduk tercukupi kebutuhan dunianya, namun ia juga mencakup penegakan hak-hak Allah. Dari mulai penegakkan hukum yang ada dalam Al Quran ataupun sunnah, sampai meliputi hak rakyat atasnya yang demikian komplek. Sungguh itu adalah beban yang sangat berat.

                 Disatu sisi, sebagian orang mungkin tergiur dengan jumlah gaji dan fasilitas yang akan ia peroleh. Belum lagi penghormatan manusia kepadanya, dan sanjungan mereka kepada pemimpinnya. Namun bila kita melihat ancaman yang ada serta beratnya tanggung jawab amanah ini, sepantasnya untuk kita tidak berangan-angan mendapatkan tanggung jawab kepemimpinan ini, terlebih untuk meminta kekuasaan tersebut. Hal ini sebagai mana yang disabdakan oleh Rasulullah n  kepada abdurrahman bin samurah z   :

Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinnan, karena jika engkau diberi kepemimpinan karena permintaanmu maka ia akan diwakilkan kepadamu, dan apabila engkau diberikan (kepemimpinan) sedang engkau tidak memintanya engkau akan ditolong (oleh Allah,red) untuk melaksanakannya [H.R. Muslim]

Lalu masih adakah yang meminta-minta kepemimpinan ?

Namun, bagi para pemimpin yang telah mendapatkan jabatan tersebut, maka hendaknya ia melaksanakan kewajiban-kewajibannya dan melaksanakannya seseuai dengan tempatnya. Berbahagialah bagi para pemimpin yang adil, sebab ia telah dijanjikan oleh Allah dengan kenikmatan di akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah n :

سبعة يظلهم الله تعالى في ظله يوم لا ظل إلا ظله إمام عد…..

Ada tujuh golongan manusia yang Allah naungi mereka, pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya :  imam yang adil…..[H.R. Al Bukhari dan Mulim]

                        Akhir kata, termasuk pedoman ahlu sunnah untuk senantiasa mendoakan kebaikan bagi para pemimpin dan dilarangnya doa keburukan atas mereka, sebab kebaikan mereka hakekatnya akan kembali kepada kita dan keburukan mereka adalah keburukan bagi kita juga.

“ Ya Allah, tunjukilah para pimpinan kami jalanmu yang benar, bantu dan tolonglah mereka dalam melaksanakan beban tersebut, engkaulah yang maha pengasih dan penyayang.amin