Kaum muslimin adalah kaum yang senantiasa mengisi waktunya dengan belajar. mulai dari umur kanak-kanak sampai waktu senjanya, mereka akan terus menimba pengetahuan sebagai wujud realisasi dari sabda Rasulullah :”menuntut ilmu wajib bagi semua muslimin”(H.R. At Tirmidzi). Kita tentu tahu bahwa ilmu dapat kita capai dengan duduk di majelis-majelis ilmu atau dengan metode belajar lainnya. Terkhusus pada majelis ilmu, ada adab-adab yang mesti kita jaga dan amalkan. Berikut adab yang dapat kita lakukan.

• Ikhlas.

Hendaklah duduknya seorang penuntut ilmu dalam majelis ilmu, ia niatkan hanya karena Allah semata. Tanpa disertai riya’ atau keinginan dunia lainnya, sebab riya akan mengurangi sempurnanya pahala yang akan diperoleh, bahkan bisa jadi akan menggugurkannya. Meluruskan niat dalam ibadah merupakan perkara yang susah dan butuh kepada perjuangan dan kesabaran, sedangkan mencari ilmu adalah ibadah yang sangat agung nilainya disisi agama. Oleh karena itu Sufyan Ats Tsauri berkata: “tidaklah aku merasa susah untuk mengobati sesuatu melebihi susahnya (mengobati) niatku”

  • Berpenampilan yang baik

Dalam mencari ilmu disunnahkan untuk berpenampilan yang baik, dengan kebersihan badan dan pakaian. Sebagaimana hal ini tersirat dari praktek yang dilakukan oleh malaikat jibril ketika bertanya kepada Rasulullah n dalam rangka mengajari para shahabat tentang Islam, Iman dan Ikhsan. Umar bin khatab menceritakan hal ini   :

قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ

Pada suatu hari, tatkala kami disisi Rasulullah n datanglah seorang laki-laki  yang bajunya sangat putih dan rambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda -tanda safar dan tidak ada seorangpun dari kami yang mengenalnya (H.R. Muslim)  

 

• Mencatat Faidah-Faidah Yang Didapatkan

Sebagai manusia kita tidak bisa lepas dari sifat lupa, sehingga kita sangat butuh terhadap catatan guna mengingat kembali faidah-faidah ilmu yang pernah kita pelajari. Catatan ibarat ilmu yang diikat, sehingga tidak akan lepas lagi. Menulis ilmu yang didapatpun telah pula dilakukan oleh sebagian shahabat Rasulullah. Abu Hurairah pernah mengatakan : tidak ada seorangpun dari shahabat Nabi n yang lebih banyak (hapalan) haditsnya dariku kecuali Abdullah bin Amr, karena ia menulisnya sedang aku tidak menulis (namun sekedar hapalan,red) (H.R. Ibnu Hibban dan sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim)

 

• Tenang Dan Tidak Sibuk Sendiri

Ini termasuk adab yang penting dalam majelis ilmu. Sebab dalam belajar seorang dituntut untuk serius dan memperhatikan ucapan guru. Imam Adz Dzahabi menyampaikan kisah Ahmad bin Sinan, ketika beliau berkata,“Tidak ada seorangpun yang bercakap-cakap di majelis Abdurrahman bin Mahdi. Pena tak bersuara. Tidak ada yang bangkit. Seakan-akan di kepala mereka ada burung atau seakan-akan mereka berada dalam shalat”. Dan dalam riwayat yang lain,“Jika beliau melihat seseorang dari mereka tersenyum atau berbicara, maka dia mengenakan sandalnya dan keluar”.

 

• Jangan Memotong Pembicaraan Guru

Termasuk adab yang harus diperhatikan dalam majelis ilmu adalah jangan kita memotong pembicaraan guru. Hal ini pulalah yang diajarkan oleh Rasulullah n kepada umatnya. Suatu ketika beliau sedang berbicara untuk menasehati suatu kaum. Lalu datanglah seorang arab badui bertanya tentang hari kiamat dengan memotong pembicaraan beliau n . maka beliau tidak menjawab pertanyaan orang tersebut dan terus menasehati kaum sampai selesai. Barulah setelah itu  beliau menjawab pertanyaan orang ini ( H.R. Al Bukhari dari Abu Hurairah z). Dalam hadits tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa hendaknya kita tidak memotong ucapan orang yang berbicara sampai selesai berbicara, terlebih kepada seorang guru . Rasulullah n dalam hadits ini berpaling dan tidak memperhatikan penanya untuk mendidik kita agar kita tidak memotong ucapan orang yang sedang berbicara.

 

Sabar, Tidak Terburu-Buru

Seorang pencari ilmu seringkali terbawa semangat, sehingga ia ingin dalam waktu yang relatif singkat untuk mendapatkan semua bidang ilmu. Ingatlah bahwa menuntut ilmu butuh waktu yang lama, maka pelajarilah secara bertahap dari yang paling penting, kemudian berikutnya, dan yang berikutnya. Oleh sebab itulah imam syafii pernah menyebutkan suatu syair :

أخي لن تنال العلم إلا بستة … سأنبيك عن ثفصيلها ببيان

ذكاء وحرص واجتهاد وبلغة … وصحبة أستاذ وطول زمان

Wahai saudaraku engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan 6 perkara

Akan aku terangkan perinciannya dengan penjelasannya

(yaitu) kepandaian, semangat, kesungguhan dan finansial

Berguru dengan ustad serta lamanya waktu

Jangan pula kita cepat putus asa karena susahnya kita dalam menghapal atau memahami, sebab demikianlah kesusahan yang bakal didapat oleh seorang penuntut ilmu. Namun wahai para penuntut ilmu agama, lihatlah kepada pahala dan keutamaan yang akan kalian peroleh disisi Allah didunia dan akhirat, sebab dengan melihat itu kita akan merasa ringan dan bersemangat dalam menjalankannya.

• Bertanyalah jika tidak paham.

Terkadang dalam majelis ilmu kita dihadapkan pada suatu permasalahan yang kita tidak memahaminya. Oleh karenanya bertanya adalah perkara yang sangat kita butuhkan untuk memecahkan persoalan ini. Allah sendiri telah memerintahkan kita untuk bertanya kepada para ulama dalam perkara yang tidak kita ketahui. Allah n berfirman َ:

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. [An Nahl : 43].

Demikian pula Rasulullah n  mengajarkan, bahwa obat kebodohan itu dengan bertanya, sebagaimana sabdanya,

seandainya mereka bertanya! Sesungguhnya obatnya kebodohan adalah bertanya. [Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimi]

•Bersemangat Menghadiri Majelis Ilmu.

Kesungguhan dan semangat yang tinggi dalam menghadiri majelis ilmu tanpa mengenal lelah, merupakan ciri dari seorang penuntut ilmu yang bersungguh-sungguh. Sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh Abdullah bin Abbas yang rela menunggu Zaid bin Tsabit di luar rumahnya untuk mendapatkan ilmu, dan beliau mengatakan :

العلم يؤتى ولا يأتي

”Ilmu itu didatangi dan bukan mendatangi”

  • Doa untuk menutup majelis

setelah kita selesai dari suatu majelis maka kita diperintahkan untuk berdoa dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah n berikut ini :

“Barang siapa yang mengucap

سبحان الله و بحمده سبحانك اللهم و بحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك و أتوب إليك

Maha suci Allah dan dengan pujian bagi-Nya, Maha Suci Engkau ya Allah dengan memujiMu, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Engkau, aku memohon ampun kepadaMu dan bertaubat kepadaMu”.

Jika seorang mengatakannya dalam majelis dzikir,maka ia adalah tutup yang menutupnya , dan barangsiapa yang mengatakannya setelah majelis kesia-siaan maka ia (doa itu) adalah pengampunan dosa baginya (H.R. At Thabrani, Al Hakim,  disebutkan dalam silsilah As Shahihah)

doa ini bisa dibaca sendiri-sendiri atau sudah cukup salah seorang diantara yang hadir dimajelis tersebut untuk berdoa dengannya. Semoga bermanfaat.