Bagi kita yang diberi badan sehat dengan kondisi yang normal, semestinya senantiasa mensyukuri nikmat ini. Sebab, nikmat berupa kesehatan tanpa adanya cacat yang menimpa tidak bisa kita ukur dengan apapun. Diantara manusia ada yang Allah uji dengan tubuh cacat semenjak lahirnya ataupun menimpa setelah keadaan normal yang sebelumnya mereka rasakan. Itu semua atas kehendak Allah dalam rangka menguji hamba-Nya, siapa diantara mereka yang dapat bersabar dan siapa diantara mereka yang pandai bersyukur.
Butanya mata serta tulinya telinga yang menimpa seorang hamba adalah ujian Allah semata. Bagaimana tidak, kedua pancaindera ini sangatlah penting serta merupakan kebutuhan pokok seluruh hamba dalam menjalankan aktifitasnya. Bagaimana sekiranya jika Ia l cabut kedua indera ini dari seorang hamba, apa kiranya yang akan terjadi atas hamba tersebut?.
Seorang yang buta tidak akan mampu mengetahui tempat berpijaknya dan apa yang ada dihadapannya. Ia tidak akan mampu membedakan mana yang indah dan mana yang buruk. Tidak pula bisa mengambil pelajaran dari ayat-ayat kauniyah (baca alam) untuk memahami betapa indahnya ciptaan Allah. Selain itu, Seorang yang buta sangat rentan dengan bahaya yang mengancamnya, walaupun bahaya itu hanya dari seorang anak kecil yang ingin berbuat jahat terhadapnya. Dia hanyalah seperti patung yang tidak mampu melakukan sesuatu yang memberi maslahat bagi dirinya tidak pula mencegah mudharat atas dirinya kecuali dengan bantuan orang lain.
Seorang yang buta semenjak lahirnya, akan lebih peka hatinya dalam membaca keadaan dibanding dengan seorang yang melihat. Kepekaan hati seorang yang buta adalah ganti dari pandangan matanya. Hal ini merupakan salah satu nikmat dan bantuan Allah atas orang yang menyandang cacat ini. Adapun kebutaan yang menimpa seorang hamba setelah sebelumnya ia dapat melihat, maka ini merupakan musibah yang besar atasnya. Sebab matanya sudah tidak mampu lagi untuk menikmati indahnya pandangan yang sebelumnya bebas ia rasakan. Ia adalah seperti orang yang sengsara setelah sebelumnya bahagia. Ia adalah seperti seorang sopir yang kehilangan kendali kendaraan.
Sesungguhnya, baik kebutaan yang datang semenjak lahir ataupun tidak, keduanya sama-sama bermudharat bagi kehidupan dunia orang yang menyandangnya. Oleh sebab itulah Allah menjanjikan bagi orang yang buta dengan surga apabila ia mampu bersabar dan mengharap pahala dari musibah ini. Rasulullah bersabda yang artinya:
“Sesungguhnya Allah berfirman: apabila Aku memberikan musibah kepada hamba-Ku dengan hilangnya dua yang dicintainya, kemudian ia bersabar darinya maka Aku gantikan baginya dengan jannah, beliau maksudkan dengannya (dua yang dicintai) dengan dua matanya”
(dishahihkan oleh Al Albani dalam shahih targhib dan tarhib, dari shahabat Anas bin Malik z ) Adapun seorang yang di cabut pendengarannya, maka ia adalah seorang yang telah hilang ruh ucapan dan perbincangan. Jadilah dia sebagai seorang yang dianggap tidak ada diantara kaum padahal ia berada ditengah mereka, bagai makhluk yang telah mati padahal ia hidup diantara mereka. Seorang yang tuli sejak lahir ia menjadi sebagaimana orang yang tidak mampu berbicara, padahal ia adalah orang yang bisa berbicara, adapun orang yang pernah mendengar kemudian kehilangan pendengaran, maka ia bisa mengungkapkan keinginan dirinya namun tidak bisa menangkap keinginan orang lain kecuali dengan isyarat. Demikian susahnya seseorang tatkala harus menghadapi musibah semacam ini.
Namun dari dua cacat ini, tahukah kita mana yang lebih berat dan mana yang lebih ringan akibatnya?. Sesungguhnya cacat penglihatan lebih besar kesusahannya didunia namun lebih selamat pada agamanya dibanding cacat pendengaran. Sebab seorang yang diuji dengan kebutaan ia masih mampu untuk mendapatkan pengajaran agama dari orang lain dan masih bisa mendapatkan nasihat agama yang berguna bagi kehidupan akhiratnya. Namun hal ini tidak terjadi untuk seorang yang tuli. Seorang yang tuli adalah seorang yang telah dihalangi dari nasihat kebaikan dan pengajaran agama dari sisi mendengar, padahal masih terbuka baginya pintu-pintu syahwat yang bisa ia lihat lewat pandangan matanya. Oleh karenanya secara umum, seorang yang tuli lebih selamat dikehidupan dunianya dari seorang buta, namun tidak untuk akhiratnya. Bukankah Allah jadikan sebagian shahabat Nabi-Nya dari orang-orang yang buta, dan tidak terdapat seorang yang tuli diantara mereka? Sungguh sangat sedikit dari kekasih-kekasih Allah yang Ia l uji dengan ketulian, namun sangat banyak dari kekasih-Nya yang Ia uji dengan kebutaan. Supaya mereka masih bisa mendengarkan Ayat-ayat-Nya dan sabda Nabi-Nya, dan masih mampu untuk memperkuat keimanannya, dan menambah ilmu serta amalnya.
Dan adapun seorang yang diberi afiat, maka itu adalah kita yang masih diberikan nikmat pendengaran dan penglihatan kemudian menggunakannya kepada apa yang Allah ridhai dan cintai. Semoga kita termasuk hamba yang pandai bersyukur dengan dua nikmat ini dan menjadikan keduanya sesuai dengan apa yang Ia l ridhai. Wallahu A’lam

Maraji Miftah Daris Sa’adah