SYARIAT TENTANG ZIARAH KUBUR

Kita tentu yakin bahwa kita akan mati, sebab seluruh jiwa yang diciptakan Allah tentulah akan merasakan mati. Namun, disebabkan berbagai hal, banyak dari kita lalai dari perkara satu ini. Nah, salah satu cara untuk kita banyak mengingat kematian adalah dengan menziarahi kubur. Rasulullah n bersabda yang artinya :
“Ziarahilah kubur, sesungguhnya hal itu dapat melembutkan hati, meneteskan air mata dan mengingatkan pada kehidupan akhirat”.[H.R. Hakim dihasankan oleh Al Albani dalam ahkamul janaiz]
Semoga kita dapat mengambil faedah dari ziarah kubur. Berikut, ada beberapa adab ziarah kubur yang mesti kita perhatikan


1. berdoa ketika memasuki pekuburan
hendaknya bagi peziarah untuk mengucapkan salam kepada para penghuni kubur tatkala memasuki areal pekuburan. Nabi n telah menuntunkan ucapan salam tersebut sebagaimana diajarkan dalam beberapa hadits beliau, diantaranya,
اَلسَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلاَحِقُوْنَ
“Semoga keselamatan tercurah kepadamu, wahai kaum muslimin dan mukminin. Semoga Allah memberikan rahmat kepada mereka yang telah mendahului kami maupun yang akan menyusul, dan kami insya Allah akan menyusul kalian.”.[H.R. Muslim]
Atau dengan doa berikut ini:
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وِالْمُسْلِمِيْنَ وِإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ . نَسْأَلُ اللهِ لَنَا وَلَكُمُ العَافِيَةَ
“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, penghuni kediaman, dari kalangan muslimin dan mukminin. Sesungguhnya kami akan menyusul kalian. Kami memohon keselamatan kepada Allah bagi kami serta kalian.”.[H.R. Ibnu Majah dan dishahihkan Al Albani]
Namun, doa salam ini tidak disyari’atkan tatkala melewati pekuburan orang kafir. Bahkan disyari’atkan untuk memberitakan kepada mereka bahwa adzab neraka akan segera mereka dapatkan. Rasulullah n pernah berpesan pada seorang Badui dengan sabda beliau,
حيث ما مررت بقبر كافر فبشره بالنار
“setiap engkau melewati kubur orang kafir, kabarkanlah kepada mereka dengan neraka”.
[ H.R. Thabarani dan dishahihkan oleh Al Albani dalam ahkamul janaiz]

2.lepaslah sandalmu
Ini juga merupakan salah satu adab peziarah kubur, yakni dengan melepas sandal ketika memasukinya. Hal ini dinyatakan dalam hadits Basyir bin Ma’bad z, “Pada suatu hari saya berjalan bersama Rasulullah n . Tiba-tiba Beliau melihat seorang yang berjalan di areal pekuburan dengan memakai sandal, maka beliau menegurnya, “Yaa shahibas sibtiyyatain (wahai yang menggunakan dua sandal), celaka engkau, lepaskan sandalmu!” Orang tersebut melongok kepada yang menegurnya, tatkala dia mengetahui orang tersebut adalah Rasulullah, serta merta dia mencopot kedua sandalnya.”.[H.R. Abu Dawud….
3. jangan berjalan diatas kubur, dan jangan pula kencing diantara pekuburan
Rasulullah n bersabda yang artinya,
“Sungguh, aku berjalan di atas bara api atau pedang, atau aku ikat sandalku dengan kakiku lebih aku sukai daripada berjalan di atas kubur seorang muslim. Dalam pandanganku, sama saja (buruknya), buang hajat di tengah pekuburan atau di tengah pasar.”[H.R. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albani]
4. Jangan duduk diatas kubur atau solat menghadapnya
Duduk diatas kubur bukan merupakan adab dalam Islam, hal ini telah dilarang oleh Rasulullah n dalam sabdanya yang artinya:
“janganlah kalian duduk diatas kuburan, dan janganlah (pula) kalian solat menghadapnya”[H.R. Muslim]
Dalam hadits ini Rasulullah juga melarang kita untuk solat menghadap ke kuburan walaupun kubur tersebut berada diarah kiblat, Disini juga dapat diambil suatu faedah ilmu, bahwa kita terlarang untuk solat dimasjid yang terdapat didepannya kuburan (yang berada didalam masjid atau diluarnya, kecuali jika ada batas berupa jalan umum atau yang semisalnya, sebagaimana hal ini disebutkan oleh sebagian ulama’).
5. doakanlah ampunan bagi penduduknya, jangan mendoakan keburukan untuk mereka
peziarah dianjurkan untuk mendo’akan ampunan bagi mayit, sebagaimana hal ini juga terkandung dalam salam yang diucapkan ketika memasuki pekuburan.
Terdapat hadits yang menyatakan Nabi n berdo’a bagi penghuni kubur. Dari ‘Aisyah x , dirinya berkata, “Pada suatu malam, Rasulullah n keluar dari rumah. Maka aku mengutus Barirah untuk membuntuti beliau, agar dirinya mengetahui kemana gerangan beliau pergi.” Aisyah melanjutkan, “Ternyata beliau pergi ke pemakaman Baqi’ul Gharqad. Beliau berdiri di ujung pemakaman tersebut sembari mengangkat tangannya (untuk berdo’a), kemudian beliau pun pergi. Barirah pun kembali dan memberitahukan hal tersebut kepadaku. Tatkala pagi menjelang, aku pun bertanya kepada beliau, “Wahai rasulullah, kemanakah gerangan engkau semalam?” Aku diperintahkan untuk pergi ke pekuburan al Baqi’ untuk mendo’akan mereka.”.[H.R. Ahmad dan dishahihkan Al Albani dalam As shahihah]
Tidak boleh bagi peziarah untuk mendo’akan keburukan bagi saudaranya yang telah wafat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
لا تسبوا الأموات فإنهم قد أفضوا إلى ما قدموا
“Janganlah kalian mencela orang yang telah wafat. Sesungguhnya mereka telah mendapatkan ganjaran atas apa yang telah mereka perbuat.”.[H.R. bukhari]
Patut untuk diperhatikan sebagai faedah, bahwa kita berziarah ke kubur adalah untuk mendoakan kebaikan buat mereka, selain dari itu adalah agar kita banyak mengingat kematian, bukan sebagai sarana untuk berdoa meminta kepada penghuni kubur yang telah meninggal, sebab hal itu merupakan bentuk kesyirikan yang diharamkan dalam Islam.
6. tidak bercanda
Ziarah kubur dilakukan untuk mengingatkan peziarah terhadap kehidupan akhirat bahwa dirinya akan mengalami kematian seperti yang dialami penghuni kubur. Tidak selayaknya bagi para peziarah untuk bercanda di areal pekuburan karena hal tersebut bertentangan dengan tujuan pensyari’atan ziarah kubur, dan sebagai sebab lalainya hati dari mengigat mati dan salah satu bentuk ketidaksopanan terhadap penghuni kubur dari kalangan kaum muslimin.
7. jangan berkata batil
Sebagian orang yang ditinggal mati, ia akan merasakan beban berat yang sangat menyedihkannya, sehingga mereka akan berucap dengan kata-kata yang melanggar syariat, seperti mencela takdir dan ketentuan Allah atas kematian, baik itu dilakukan ketika baru meninggal atau sebagian melakukan hal itu disetiap berkunjung kemakam, ia akan meratap dan berucap dengan kata yang melanggar syariat, padahal justru ratapan orang yang masih hidup ini, akan berakibat bertambah buruknya keadaan si mayyit
Nabi n bersabda yang artinya
“Barangsiapa yang ditangisi dan diiringi dengan ratapan, maka ia akan merasa tersiksa pada hari kiamat kelak disebabkan ratapan tersebut.”.[H.R. Muslim]
Beliau n juga bersabda yang artinya
“Sesungguhnya Allah tidaklah mengadzab disebabkan bercucurnya air mata atau bersedihnya hati. Namun Allah membuatnya tersiksa dengan sebab (ratapan) yang diucapkan oleh lisan seseorang-beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan menunjuk lisannya”.[H.R. Bukhari]
8. menangislah
Boleh bagi peziarah untuk menangis jika teringat si mayit atau semisalnya, tentu saja dengan tanpa ratapan yang menyelisihi syariat, hal ini berdasarkan hadits Anas bin Malik z dia berkata,
“Aku turut menghadiri pemakaman anak perempuan nabi n, sedangkan beliau duduk di samping kuburnya. Aku melihat kedua mata beliau mengucurkan air mata.”.[H.R. Bukhari dan Muslim]
Demikianlah bentuk-bentuk adab ziarah kubur, semoga bermanfaat.