Tidak kita pungkiri bahwa pakaian bukanlah sekedar sebagai sarana menutup aurat saja, namun juga berfungsi sebagai hiasan dan keindahan bagi pemakainya. Terkadang seorang beranggapan bahwa kita harus berpakaian sebagus mungkin supaya terbedakan dengan orang yang lain (baca :tampil beda), tak peduli apakah hal itu melanggar syariat ataukah tidak. Sebagian  yang lain justru sebaliknya melihatnya sebelah mata tidak mau ambil pusing dengan penampilan hingga terkadang berpakaian lusuh, kumal dan jauh dari kebersihan. Lebih parah lagi, sebagian orang telah dicabut rasa malunya sehingga dengan tanpa malu mengumbar auratnya kepada khayalak ramai. Tentu semua ini adalah pendapat yang keliru dan berlebihan. Nah bagaimana sih aturan Islam dan adabnya dalam berpakaian?

1. tutuplah auratmu dengan pakaian.

Demikianlah, syariat Islam mendorong pemeluknya untuk senantiasa mengutamakan rasa malu pada setiap keadaan. Oleh sebab itulah agama ini memerintahkan pemeluknya untuk menutup aurat mereka dari pandangan manusia. Tentulah batasan-batasan auratpun telah diatur sedemikian rupa oleh Allah. Kewajiban menutup aurat ini telah disebutkan oleh nabi saw dalam sabda beliau yang artinya,”sesungguhnya kami dilarang untuk menampakkan aurat kami.” [shahih dishahihkan oleh Al Albany dalam silsilah ahadist shahihah]. Larangan untuk menampakkan aurat ini bersifat umum, namun ada orang-orang yang dikecualikan dalam larangan ini, seperti dalam hadist berikut ini :

احفظ عورتك إلا من زوجتك وما ملكت يمينك

“Jagalah auratmu kecuali kepada istri dan budakmu.”[H.R. Al Baihaqy dalam syu’abul iman dengan sanad hasan]

2. pakailah dimulai dengan yang  kanan,dan lepaslah dengan yang kiri dahulu. jangan lupa untuk berdoa ketika memakainya

Inilah kebiasaan Nabi saw yang mesti kita contoh dalam kehidupan sehari-hari, yaitu selalu memulai dengan yang kanan. Memakai pakaian dari sebelah kananpun masuk pula kedalam kebiasaan nabi ini. Diriwayatkan dari Aisyah rah bahwa beliau mengatakan yang artinya,”dahulu Rasulullah saw  menyenangi untuk mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir, dan bersuci serta seluruh keadaan [Muttaqafun alaihi].

Jangan lupa untuk berdoa kepada Allah, sebagai wujud kesyukuran atas nikmat yang telah Ia swt berikan kepada kita, demikian pula sebagai sarana mendekatkan diri kita kepadaNya dengan doa ini. Rasulullah saw bersabda:

ومن لبس ثوبا فقال الحمد لله الذي كساني هذا الثوب ورزقنيه من غير حول مني ولا قوة غفر له ما تقدم من ذنبه.

“….dan barang siapa yang memakai pakaian seraya mengucap : segala puji bagi Allah yang telah memberiku pakaian dan memberikan rizki kepadaku dengannya tanpa ada daya dan upaya dariku, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.”[H.R. Ibnu Majah,hadist ini dihasankan oleh Al Albani dalam shahih sunan Abi Dawud dari sahabat Anas dari ayahnya]

3. hati-hati dengan pakaian yang haram!!!!!!

a. sutera

bahan pakaian yang satu ini, adalah bahan yang sangat indah ketika menjadi suatu pakaian. Oleh karenanya, seringkali sutera menjadi perlambang kekayaan dan tingginya kedudukan bagi pemakainya. Namun kita mesti tahu bahwa sutera adalah bahan pakaian yang dilarang dipakai dalam Islam, utamanya bagi kaum laki-laki umat ini. Rasulullah bersabda yang artinya,”barangsiapa yang memakai sutera didunia maka ia tidak akan memakainya diakhirat…”[H.R. hadit ini shahih dishahihkan Al Albany dalam silsilah ahadist shahihah]

padahal dalam banyak ayat, Allah telah menyebutkan bahwa pakaian penduduk surga adalah sutera. Dengan demikian hadist tersebut menunjukkan ancaman neraka bagi pemakainya. Namun dikecualikan dari larangan ini adalah memakai sutera sebatas lebar dua, tiga sampai empat jari, sebagaimana yang dikhabarkan oleh Umar ra bahwa Rasulullah saw melarang memakai sutera kecuali sebesar ini, Rasulullah mengangkat dua jarinya kepada kami, yakni jari telunjuk dan jari tengahnya [H.R. Al Bukhari dan Muslim] dalam riwayat muslim disebutkan bahwa Rasulullah melarang memakai sutera kecuali sebesar dua, tiga, atau empat jari.

Adapun bagi orang yang sakit gatal, kemudian butuh memakai sutera pada tempat yang sakit untuk mengurangi sakitnya, maka kita diberikan keringanan untuk memakainya sebagaimana rukhsah (keringanan) Rasulullah saw  kepada Zubair Bin Awwam dan Abdurrahman Bin Auf rahm untuk memakai sutera disebabkan gatal (al jarab/kudis) yang menimpa keduanya[H.R. muslim dari shahabat Anas ra]

Adapun bagi kaum wanita, Islam telah memberikan keringanan bagi mereka untuk memakainya. Hal ini sebagaimana riwayat dari Ali ra bahwa suatu saat Nab saw mengambil sutera dengan tangan kanannya dan mengambil emas dengan tangan kirinya kemudian bersabda:

 إن هذين حرام على ذكور أمتي

“sesungguhnya keduanya diharamkan atas kaum laki-laki dari umatku”[H.R. Ahmad, Abu Dawud, An Nasa’i dan Ibnu Hibban, dan dishahihkan Al Albany dalam Ghayatul Maram]

b. muashfar

muashfar adalah pakaian yang dicelup dengan ‘ushfur, suatu jenis tumbuhan yang dipakai untuk mewarnai pakaian dan menjadikan warna pakaian menjadi kuning atau merah. Dalam suatu hadist disebutkan bahwa Rasulullah melihat Abdullah Bin Amr Bin Al ‘Ash memakai dua pakaian yang dicelup Ushfur, maka beliau mengatakan yang artinya,”sesungguhnya ini termasuk pakaian orang kafir, maka janganlah kalian memakainya” [H.R.Muslim]

larangan ini bukan mutlak untuk seluruh pakaian yang dicelup dengan bahan tertentu yang berwarna merah atau kuning, namun itu khusus bagi baju yang dicelup dengan bahan ini, sebab Rasulullah sendiri pernah memakai pakaian yang berwarna merah dan salat dengan memakainya [H.R. Al Bukhary dari shahabat ‘Aun Bin Abi Juhaifah dari bapaknya rahm]

c. pakaian untuk ketenaran

hendaknya diketahui, bahwa pakaian ketenaran bukan sekedar pakaian yang wah, yang membuat decak kagum karena mewah dan lain dari yang lain. Namun, masuk pula dalam makna pakaian ketenaran adalah seorang memakai pakaian yang acak-acakan, kumal dan sejenisnya, bertujuan supaya manusia menganggapnya zuhud atau yang semisal dengannya. Nabi kita telah melarang umatnya untuk memakainya. Rasulullah bersabda :

” من لبس ثوب شهرة من الدنيا ألبسه الله ثوب مذلة يوم القيامة ”

 “Barangsiapa yang memakai pakaian ketenaran didunia, maka Allah akan memakaikannya pakaian kerendahan pada hari kiamat”[H.R.Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah, dari shahabat Ibnu Umar ra dan dihasankan Al Albany dalam Misykatul Mashabih]

d. pakaian dari kulit hewan buas

pakaian yang terbuat dari kulit hewan ada yang dihalalkan oleh syariat dan ada pula yang tidak dihalalkan. Salah satu sebab dilarangnya kita memakai jenis yang tidak dihalalkan ini adalah karena adanya unsur najis. Dalam hal ini, hewan buas adalah hewan yang haram dikonsumsi dagingnya, walaupun kita membunuhnya dengan disembelih dan mengucap nama Allah. Oleh sebab itu daging dan kulit dari hewan buas termasuk bangkai yang najis. Tentulah kita tidak boleh memakai pakaian dari kulit yang najis. Mengenai larangan memakai pakaian dari kulit hewan buas adalah apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw bahwa beliau melarang dari memakai pakaian dari kulit hewan buas dan berkendaraan (dengan duduk, red) diatasnya [H.R. Abu Dawud, An Nasa’i dan dishahihkan oleh Al Anbany dalam silsilah Ahadist shahihah]

e. wahai wanita jangan memakai pakaian kaum laki–laki

dan sebaliknya, tidak boleh pula bagi kaum laki-laki untuk memakai pakaian perempuan, sebab rasulullah telah bersabda

رواه البخاري وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه والطبراني وعنده أن امرأة مرت على رسول الله صلى الله عليه وسلم متقلدة قوسا فقال لعن الله المتشبهات من النساء بالرجال والمتشبهين من الرجال بالنساء

“Allah melaknat para wanita yang meniru laki-laki dan laki-laki yang meniru perempuan”[H.R. Al Bukharidan Abu Dawud]

Hadist ini umum dalam segala perkara, dari mulai penampilan, gaya ucapan dan berjalan, demikian pula meniru dalam hal pakaian yang merupakan kekhususan pakaian bagi masing-masingnya

sebagai penutup, kita hendaknya meyakini bahwa apa yang diatur syariat tentulah sesuatu yang baik dan apa yang dilarang maka itu pasti suatu yang buruk. Pada dasarnya semua jenis pakaian itu baik namun, ketika pakaian tersebut akan memberikan kemudharatan bagi pemakainya maka syariatpun melarangnya, demikian sekelumit bahasan tentang pakaian semoga bermanfaat. Wallahu A’lam

referensi :              Umdatul Ahkam

Duraril Mudhiyah

Dll