baju hewan dan baju manusia

memikirkan keajaiban alam tentu tidak akan pernah ada habisnya. Maha karya dari yang Maha Agung senantiasa menjadikan hati kita berdecak kagum dan menjadikan kita senantiasa tunduk dan merendah dihadapanNya. Bagaimana tidak, semakin kita berupaya mengetahui alam, semakin terkuak keajaiban alam disekitar kita.
Tengoklah sebentar kepada alam disekitar kita, Allah ciptakan hewan -hewan tanpa bisa memakai baju yang dapat melindungi diri mereka dari panas dan hujan, namun Allah menciptakan bagi mereka bulu, dan rambut, serta jenis kulit tertentu yang berfungsi sebagai pengganti baju bagi manusia. Mereka berlindung dari panasnya terik matahari serta dinginnya udara dengannya. Baju alami inipun adalah baju yang sesuai dengan semua kondisi cuaca dan musim. Tanpa perlu berganti-ganti atau dirubah dari asalnya. Jadilah baju tersebut sebagai baju untuk segala kondisi. Ia ada bersama dengan pemiliknya sejak lahirnya dan hilang dengan kematian sang pemilik itu tersendiri.
Lihatlah kepada baju kura-kura yang berupa tempurung yang sangat kokoh, lihat pula kepada bulu landak yang keras lagi tajam, dan kepada baju-baju hewan lainnya. Selain merupakan baju yang melindungi dari panas dan dingin, juga Allah l jadikan baju tersebut sebagai pertahanan diri dari ancaman yang mengganggu. Sebagian hewan, tidak dibekali dengan kulit yang keras untuk melindungi diri, namun Allah berikan alat pertahanan dari hewan lain yang mengancamnya. Kita tentu tahu bahwa ada jenis hewan yang pemakan daging (buas), dan ada yang pemakan tumbuhan (tidak buas). Walaupun hewan pemakan tumbuhan tidak memiliki taring dan cakar yang tajam, namun Allah bekali hewan-hewan ini dengan sepatu yang kuat dan keras, dengannya mereka berlari, bertahan dan mengalahkan musuhnya. Semua ini sesuai dengan kesempurnaan hikmah, rahmat dan kasih sayang Allah
Adapun bagi manusia, Allah melebihkan nikmatNya dari sekalian hewan. Allah jadikan manusia tidak memiliki “baju” yang menyatu terus-menerus dengan tubuhnya. Mereka membutuhkan baju dari yang lainnya yang dapat mereka pakai dan tanggalkan sekehendak mereka. Baju itupun dipakai sesuai dengan kondisi cuaca dan kebutuhan. Sebab baju musim dingin tidaklah cocok digunakan dimusim panas dan baju musim panas tidak tepat digunakan tatkala dingin. Membutuhkan baju dari yang lain, bukanlah merupakan suatu bentuk kekurangan, namun ini adalah nikmat yang besar. Bagaimana tidak, seorang manusia butuh melepas bajunya ketika membersihkan badan supaya tubuh dapat dibersihkan secara sempurna, atau karena baju telah kotor sehingga perlu untuk diganti dengan yang lain. Seandainya Allah jadikan manusia memiliki baju yang senantiasa melekat pada diri mereka, hal ini akan membuat susah dan berat bagi diri mereka. Akal dan keinginan manusia akan senantiasa menolak dan tidak menyepakatinya.
Allahpun jadikan baju manusia sesuai dengan kehendak mereka, dari katun, wol, kulit, atau ditambah dengan sebagian bahan tambang seperti emas dan perak. Mereka mendapatkan kenikmatan dan kesenangan diri dengan baju tersebut sebagaimana mereka bernikmat-nikmat dan bersenang dengan berbagai macam makanan. Allah l berfirman :
ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”.[Al A’raf : 26]

Baju manusia ini adalah nikmat utama yang diberikan kepada mereka. Allah lebihkan nikmat tersebut bagi mereka dari seluruh hewan. Allah juga membedakan hewan dengan manusia dengan jenis pakaian ini sebagaimana Allah membedakan mereka dalam bentuk, makanannya, tempat tinggal, akal serta pemahamannya. Oleh sebab itu Allah jadikan penduduk surga berpakaian dengan pakaian manusia ini, dari jenis bahan pakaian terbaik berupa sutera sebagai bentuk kesempurnaan nikmat-Nya dan kesenangan untuk mereka para penduduk surga. Dengan segala jenis baju bagi hewan ataupun manusia, semua tidak lepas dari kasih sayang Allah dan pemuliaan Allah atas makhluknya.

maraji’: miftah daris sa’adah